sebuah goresan dari hasil pemikiran yang sederhana dari seorang anak manusia yang selalu berusaha belajar dari apapun dan dari siapapun, untuk memaknai hidup dengan lebih baik
Friday, July 2, 2010
syukur
Tuesday, April 27, 2010
Judul Jurnal Referensi Outline Skripsi MK Seminar SDM
- ichsan : "The contributions of specific resources from the firm in its competitive performance: a Resource-Based View approach in the software sector"
- Deni 06 : " The Mediating Role of PSychological Contract Violatin (PCV) between Psychological Contract Breach (PCB) & work relatred attitudes and behaviors "
- Cita Ayu : " Partisipasi dalam pengambilan keputusan "
- Maya Irvanita ; "A Cross cultural comparison of ethical orientations & Willingness to sacrifice ethical standards: china vs peru"
- Arlina : "Relationship between Emotional Intelegence & transformational leadership of Supervisors"
- Fadian : " Human Resorces Practices and commitment to change : an employee-level analysis"
- Dian Tri : " Self-leadership and performance outcomes: The Mediating influence of self-efficacy"
- Retna : "Pengaruh Orientasi Layanan Organisasi terhadap OCB dan kepuasan kerja Customer contact sebagai variabel mediasi"
- Galih Saputra ; " The impact of the mother during family business succession"
- Ega Krisma : " Pengaruhb penilaian Kinerja Pada kepuasan kerja dan tingkat Turnover (Studi Kasus pada perusahaan X di Solo )"
- Farid Wajdi : " Self Leadership skills and innovative behavior at work"(studi pada karyawan Rumah Sakit X di Surakarta)
- Aditya Yoga : "Perceived Organizational Support and Organizational commitmen. The moderating effect of locus of controland Work autonomy"
- Ayom Wratsangka : " Effects of satisfaction with comunication on the relationship between individual Job congruence and job performance satisfaction"
- Haikal : "Effects of training framing, general self efficacy and training-the congruence between the importance of job satisfaction and the perceived level of achievement"
- Surya : "Employee commitment in changing organization : an exploration"
- Hanifa : "Self saccrifice and transformational leadership : Mediating Role of Altruism"
Saturday, April 24, 2010
Mengatasi "Burnout" di Tempat Kerja
Sabtu, 24 April 2010 - 15:11 WIB
"Burnout” adalah kondisi terperas habis dan kehilangan energi psikis maupun fisik. Biasanya hal itu disebabkan oleh situasi kerja yang tidak mendukung atau tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan.
Biasanya burnout dialami dalam bentuk kelelahan fisik, mental, dan emosional yang intens. Karena bersifat psikobiologis (beban psikologis berpindah ke tampilan fisik, misalnya mudah pusing, tidak dapat berkonsentrasi, gampang sakit) dan biasanya bersifat kumulatif, maka kadang persoalan tidak demikian mudah diselesaikan. Bahkan, seperti spiral, bisa makin melebar, mengganggu kinerja dan pada gilirannya dapat menyebabkan tambahan tekanan bagi pekerja yang lain.
Kekurangjelasan hak dan tanggung jawab kerja serta konflik peran (misalnya tuntutan kerja tidak konsisten dengan nilai-nilai yang diyakini) dapat berkontribusi. Terlebih bila ada beban berlebih, tuntutan kerja yang berat tanpa ada penghargaan atau capaian yang dirasa memadai. Sedikitnya dukungan sosial di dalam lembaga maupun dari luar lembaga serta kesulitan untuk mengambil keputusan mandiri juga dapat menjadi penyebab.
Menurut Psikolog Kristi Poerwandari dalam artikel "Mengatasi Burnout di Tempat Kerja" (Minggu, 10 Januari 2010), idealnya lembaga tempat kerja bisa mengembangkan mekanisme untuk mencegah atau meminimalkan burnout, dan pemimpin memahami peran yang secara ideal dijalankannya untuk membawa energi positif dan kesolidan kerja dalam timnya.
Namun, tidak jarang ada kasus, justru pemimpin menjadi pihak yang menyebabkan, atau memperparah situasi. Jika hal itu terjadi, Kristi menyarankan adanya komunikasi secara terbuka, jujur sekaligus tetap santun dengan sang pemimpin tersebut. Sekaligus, anak buah yang bersangkutan perlu mencoba memahami visi atasan, dan menjelaskan situasi nyata di lapangan agar terjadi kompromi.
Bila bawahan memang sulit mengupayakan komunikasi yang lebih baik dengan atasan, yang dapat dilakukan tampaknya hanyalah mengembangkan mekanisme pribadi dan lingkungan kerja terdekat untuk meminimalkan atau mengatasi masalah:
Berikut tips dari Kristi Poerwandari:
-Mengelola beban kerja secara realistis, menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat segera dibereskan secara tuntas.
-Menyeimbangkan gaya hidup, seperti mengonsumsi makanan sehat, tidur dan istirahat cukup, berolahraga, dan mempertahankan koneksi dengan orang-orang dekat sebagai kelompok dukungan.
-Mengurangi ketegangan dengan berbagai cara fisik (olah napas, relaksasi, olah tubuh), menyelang-seling aktivitas stres tinggi (misalnya rapat penting, lobi) dengan aktivitas bertegangan rendah (bercakap dengan bawahan), menggunakan waktu jeda atau istirahat untuk recharge energi seperti ngobrol dengan teman dekat, nonton drama-komedi, duduk di depan kolam ikan, atau melakukan hobi.
-Menyadari atau mewaspadai tanda-tanda awal stres kerja (konflik dengan rekan dan atasan, beban berlebih) dan segera mengambil langkah mengelola atau mengatasinya.
Bila kita masih saja merasa sangat tidak nyaman dan tidak lagi terhubung dengan tempat kerja, bahkan terus berpikir ingin pergi, mungkin memang saatnya bagi kita untuk menemukan atau mengonstruksi yang baru.
portalhr.com